Sebagai seorang manusia yang jahil, aku pernah mencoba memperhatikan proses terkabulnya sebuah do'a. Kali ini aku menemukan bukti dari do'aku yang sering kulantunkan setelah beberapa bulan aku melakukannya hampir setiap hari. Do'a yang kumaksudkan adalah do'a yang biasanya kita mohonkan setelah selesai mengerjakan shalat sunat dhuha.
Setelah dengan izin dan karunia Allah, aku sanggup mengamalkan sunat dhuha hampir setiap hari yang sudah berlangsung hampir setengah tahun ini. Pada sekitar bulan ke-3 aku dinampakkan Allah tentang terkabulnya salah satu permintaan yang ada pada kalimat do'a dhuha itu.
Ceritanya seperti ini :
Sudah beberapa tahun ini aku menjalankan usaha distribusi saldo pulsa elektrik. Selama itu pula aku belum pernah menemukan kerugian dalam usaha ini. Kemudian disela-sela usaha mencari nafkah setiap hari, dalam 3 bulan terakhir dengan izin dan karunia Allah aku membarenginya dengan hampir setiap hari shalat sunat dhuha lengkap dengan do'anya.
Mendadak pada sekitar bulan ke-3 aku mengamalkannya, sebuah kerugian yang bagiku cukup besar menimpa usahaku. Aku tertipu sejumlah uang yang kalau dikalkulasikan menyerap 1/5 dari putaran modal yang bergulir dalam usaha tersebut.
Sebagai manusia yang sangat kurang iman dan pengetahuan agamanya, hatiku sempat mengeluhkan keadaan ini. Aku memohon rezeki kok malah yang datang pengurangan rezeki, begitu bisikan-bisikan yang muncul dalam hati. Allah menjawabnya seperti ini, tiba-tiba datang kerumahku seorang teman yang minta tolong diajari sunat dhuha beserta do'a setelahnya. Dengan setengah acuh, kuambilkan lembaran kertas teks do'a untuk kuberikan karena toh aku sudah hapal diluar kepala.
Tidak berapa lama, dia bergumam :"wah.. disini ada do'a yang artinya : ..dan terhadap rizqiku yang haram maka sucikanlah... gimana ya..? selama ini mungkin banyak penghasilanku yang kuperoleh dengan cara yang sepertinya haram" dst...dst dia ngomong terus. Selama temanku nyerocos, telingaku hampir tidak mendengarkan lagi karena otakku sedang menemukan korelasi atau hubungan antara potongan do'a : ...dan terhadap rizqiku yang haram maka sucikanlah... dengan kejadian usahaku yang merugi mendadak tersebut.
Berarti harusnya aku berterimakasih kepada Allah karena sudah sebagian kecil dari rezeki yang kuterima dengan cara haram semenjak aku mampu mencari nafkah sendiri selama puluhan tahun, dibersihkan-Nya dengan cara cicilan. Andaikata Allah membersihkan rezekiku yang haram selama puluhan tahun itu dengan kontan (bukan dengan cara cicilan), tentu saja semua modalku dalam usaha yang sedang kulakukan ini jelas habis dan itu belum cukup untuk proses pembersihan yang dilakukan Allah.
Setelah menyadari itu, akupun mulai berdiskusi dengan temanku yang datang. Kami membicarakan tentang ada seorang teman kami yang kabarnya sudah melazimkan sunat dhuha hampir setahun tetapi mendadak tertipu sekitar 100 juta. Aku juga teringat tetanggaku yang mengaku baru mengerjakan sunat dhuha 2 bulan mendadak harus kehilangan uang hampir 10 jt. Setelah tamuku berlalu, maka hatikupun sudah plong dan ada sedikit perasaan berbunga-bunga karena sudah merasa "disentuh" oleh Allah. Pikirku lagi, untung sebagian hartaku yang haram sudah dibersihkan oleh Allah ? Bagaimana kalau seandainya Allah membersihkannya di akhirat kelak ? Aku bergidik, andaikata Allah membersihkan hartaku itu di akhirat nanti... tentu kesakitan dan kengerian yang kualami akan puluhan kali beratnya.
Thursday, July 29, 2010
Thursday, March 11, 2010
BEBASKAN DIRI DENGAN ISTIGHFAR
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah! Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri dihadapan Rabb Al-’Alamin.
Kutipan khutbah Nabi Muhammad yang menggetarkan jiwaku yang selalu merasa punya banyak dosa dan khilaf di dunia ini. Dalam hadist Rasullullah bersabda: "Demi Allah Aku beristighfar dan bertaubat kepada-NYA seratus kali dalam sehari." HR. Bukhari.
Kalau saja nabi kita yang dosanya pasti diampuni Allah saja mohon ampun 100x sehari, mengapa aku memohon ampun lebih sedikit jumlahnya dibanding nabi ? Padahal... khilaf dan dosaku begitu tinggi mencapai langit. Padahal... khilaf dan dosaku begitu banyak tak sanggup digit yang ada di dunia bisa menghitungnya. Padahal... khilaf dan dosaku begitu luas tak sebanding dengan luasnya bumi dan langit.
Kemudian... rasanya tidaklah layak jika aku cuma bisa melantunkan kalimat istighfar itu dengan mengacu pada jumlahnya saja yang melebihi jumlah yang dibaca oleh nabi. Terasa munafik jika lidahku mengucap : Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran kabiran walaa yaghfiruzh zhunuba illa anta faghfirli maghfiratan min indika warhamni innaka antal ghafururrahim (Ya Allah, sesungguhnya kami berbuat aniaya kepada diri kami sendiri dengan aniaya yang banyak dan besar dan tiada yang sanggup mengampuni melainkan Engkau maka ampunilah kami langsung dari pada-Mu serta kasihanilah kami sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang) sementara hatiku lalai.
Aku ingin.. setiap 1 kali aku mengucapkan istighfar, maka hatiku menuruti dengan pengertian dan dengan penuh rasa takut dan harap. Rasa tak berguna ucapan kalimat itu jika hatiku tidak mengiringinya dengan getaran dan rasa.
Kalau saja nabi kita yang dosanya pasti diampuni Allah saja mohon ampun 100x sehari, mengapa aku memohon ampun lebih sedikit jumlahnya dibanding nabi ? Padahal... khilaf dan dosaku begitu tinggi mencapai langit. Padahal... khilaf dan dosaku begitu banyak tak sanggup digit yang ada di dunia bisa menghitungnya. Padahal... khilaf dan dosaku begitu luas tak sebanding dengan luasnya bumi dan langit.
Kemudian... rasanya tidaklah layak jika aku cuma bisa melantunkan kalimat istighfar itu dengan mengacu pada jumlahnya saja yang melebihi jumlah yang dibaca oleh nabi. Terasa munafik jika lidahku mengucap : Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsiran kabiran walaa yaghfiruzh zhunuba illa anta faghfirli maghfiratan min indika warhamni innaka antal ghafururrahim (Ya Allah, sesungguhnya kami berbuat aniaya kepada diri kami sendiri dengan aniaya yang banyak dan besar dan tiada yang sanggup mengampuni melainkan Engkau maka ampunilah kami langsung dari pada-Mu serta kasihanilah kami sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang) sementara hatiku lalai.
Aku ingin.. setiap 1 kali aku mengucapkan istighfar, maka hatiku menuruti dengan pengertian dan dengan penuh rasa takut dan harap. Rasa tak berguna ucapan kalimat itu jika hatiku tidak mengiringinya dengan getaran dan rasa.
Saturday, February 20, 2010
TAMPARAN YANG MENJAWAB PERTANYAAN
Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, yakni seorang kiyai.
Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya "wujud" sakit itu!
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua "merasakan" keberadaan-Nya tanpa mampu melihat wujud-Nya.
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.
Semoga kutipan cerita diatas menambah ke-imanan kita semua
Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.
Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya "wujud" sakit itu!
Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua "merasakan" keberadaan-Nya tanpa mampu melihat wujud-Nya.
Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?
Pemuda : Tidak.
Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.
Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.
Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.
Semoga kutipan cerita diatas menambah ke-imanan kita semua
Sunday, February 7, 2010
PENUNTUN CERITA HIKMAH PENJUAL KACANG
Al-Habib, seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan kemuliaan hatinya, malam itu mengimami shalat jamaah Isya’ yang dimakmumi para pejabat negara dan pemuka masyarakat. Selesai salam, beliau membalikkan tubuh, menghadapkan wajahnya kepada jamaah dan berkata : ”Saya harap dari kalian keluar sejenak karena di halaman depan sedang ada seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”
Beberapa orang langsung berdiri dan keluar lalu kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.
”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” lanjut Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam menjalani keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ” Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…”
Salah seorang jamaah berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat karena merasakan betapa piciknya akhlaknya selama ini tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
Beberapa orang langsung berdiri dan keluar lalu kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.
”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” lanjut Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya. Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam menjalani keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ” Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…”
Salah seorang jamaah berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat karena merasakan betapa piciknya akhlaknya selama ini tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.
Friday, February 5, 2010
PENUNTUN BACA JUZ UNTUK KESEHATAN
Selama ini saya mengetahui bahwa surah Al Fatihah yang dibacakan mampu menyembuhkan beberapa penyakit. Namun pada sekitar tahun 2007 saya baru mengetahui bahwa ada metode khusus penggunaan bacaan Al Qur'an untuk pengobatan. Awalnya informasi itu diperoleh dari sebuah tabloid bernama "Khalifah". Setelah dikonfirmasikan dengan tetangga yang sudah mendalami pengetahuan itu, maka saya langsung "try out" dengan niat mencari pahala membaca Al Qur'an dan siapa tahu memperoleh bonus berupa kesehatan.
Sekedar berbagi pengetahuan bagi pengunjung blog ini, saya sampaikan tentang apa yang sudah diketahui dan dialami dalam menerapkan metode ini selama sekitar 1,5 tahun :
Sekedar berbagi pengetahuan bagi pengunjung blog ini, saya sampaikan tentang apa yang sudah diketahui dan dialami dalam menerapkan metode ini selama sekitar 1,5 tahun :
- Metode ini disebut MSFQ (Metode Struktur dan Format al Qur'an) ditemukan oleh bangsa Indonesia yakni ustadz Lukman Soemabrata.
- Al Qur'an terbagi 30 juz. Setiap juz memiliki karakteristik ENERGI yang berbeda jika dibaca. Setiap manusia juga memiliki medan energi yang berbeda. Apabila seseorang membaca 1 juz Al Qur'an dengan medan energi yang mirip atau sinkron, maka energi dari bacaan Al Qur'an akan memberi pengaruh bagi sipembaca. Maka langkah pertama adalah mencari tahu : kategori juz berapakah saya ? Akhirnya saya mengetahui bahwa saya termasuk kategori Juz 15.
- Berikutnya adalah proses instalasi juz itu atau mungkin saya pakai istilah "tuning" atau penyelarasan pada diri sipembaca. Caranya adalah melakukan pembacaan juz itu 4 kali dengan waktu dan aturan tertentu. Juz itu dibaca pada hari ke-1, 5, 9 dan 13. Jika pada hari ke-1 dibaca pada jam 10 malam maka untuk bacaan hari ke-5, 9 dan 13 juga diusahakan pada jam yang sama. Membacanya harus tanpa terputus sebanyak 1 juz, makanya sebelum membaca saya persiapkan lampu, kipas angin dan kalau perlu obatnyamuk serta tempat duduk senyaman mungkin.
- Saya mengalami rasa takut yang aneh tapi berangsur hilang pada pembacaan hari ke-1. Setelah selesai pembacaan hari ke-13 maka rasanya badan terasa lebih ringan dan sehat. Flu yang biasanya menghampiri setiap 3 bulan seakan enggan dan cuma menghampiri setelah 6 bulan.
Selama 1,5 tahun itu saya mengikuti sekitar 6 tahap variasi pembacaan Al Qur'an khusus untuk kesehatan. Selama itu pula saya menyaksikan dan banyak mendengar tentang keberhasilan pembacanya dalam menyembuhkan berbagai penyakit bahkan kanker. Saya memperoleh banyak informasi itu dari langganan tabloid Khalifah dan juga sering duduk mendengarkan tanya jawab dirumah tetangga yang mendalami metode tersebut. Memang tidak semuanya berhasil dengan metode ini, akan tetapi minimal saya sudah turut membuktikannya sendiri.
Pada juz saya yakni juz 15 diperoleh 2 manfaat yaitu manfaat kesehatan dan mengetahui karakter pribadi juz yang bersangkutan. Secara singkat karakter saya dipengaruhi oleh struktur juz 15 yang terdiri dari 2 surah : al Isra (perjalanan diwaktu malam) dan al Kahfi (gua). Selain itu angka juz 15 identik dengan surah ke-15 yaitu surah al Hijr (batu).
Artinya orang juz 15 memiliki karakter :
Pada juz saya yakni juz 15 diperoleh 2 manfaat yaitu manfaat kesehatan dan mengetahui karakter pribadi juz yang bersangkutan. Secara singkat karakter saya dipengaruhi oleh struktur juz 15 yang terdiri dari 2 surah : al Isra (perjalanan diwaktu malam) dan al Kahfi (gua). Selain itu angka juz 15 identik dengan surah ke-15 yaitu surah al Hijr (batu).
Artinya orang juz 15 memiliki karakter :
- Senang kegiatan malam secara fisik atau pemikirannya saja, suka keagamaan/mistis, sering mengucilkan diri (al Isra),
- Suka menutupi perasaan, pemikiran mendalam, mudah terganggu oleh sedikit masalah (al Kahfi)
- Keras pendirian, cenderung mematuhi aturan yang sudah baku (al Hijr)
Manfaat dari segi kesehatan sudah saya rasakan sendiri pada saat saya membacanya secara rutin dan terjadwal. Tentang karakter sebagian besar saya akui memang seperti itu dan mungkin lebih baik lagi dengan meminta penilaian dari keluarga dan teman sepergaulan yang lebih bisa proporsional.
Thursday, February 4, 2010
PENUNTUN DO'A DISAAT KESULITAN
- Bismillaahi 'alaa nafsii wa maalii wa diinii, Allahumma radhdhinii biqadhaaika wa baariklii fiimaa quddiralii hattaa laa uhibba 'tajiila maa akhkharta wata' khiiramaa 'ajjalta = ("Dengan nama Allah atas diri hamba, atas harta hamba dan atas agama hamba. Yaa Allah jadikanlah hati hamba ikhlas atas apa yang Engkau tetapkan kepada hamba, dan berkatilah apa-apa yang sudah Engkau takdirkan kepada hamba, supaya hamba tidak menyukai untuk meminta disegerakan apa-apa yang Engkau lambatkan bagi hamba dan supaya hamba tidak menyukai untuk meminta diperlambat apa-apa yang Engkau segerakan kepada hamba") HR. Ibnu Sunny
Friday, January 15, 2010
BUKTI KEUNIKAN AYAT AL QUR'AN
KH. Fahmi Basya dalam buku beliau "Matematika Al-Qur'an" tentang hubungan runtuhnya World Trade Center di Manhattan New York pada tanggal 11 September 2001. Ayat di bawah ini seakan sudah meramalkan tentang akan terjadinya peristiwa tersebut dengan adanya kesamaan pada beberapa hal :
Terdapat 6 Fakta Al Qur'an yang sama dengan 6 Fakta WTC.
Lebih jelasnya tentang persamaan pada 6 hal itu adalah sebagai berikut :
Terdapat 6 Fakta Al Qur'an yang sama dengan 6 Fakta WTC.
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa
kepada Allah dan keridhaan- (Nya) itu yang baik ataukah orang-orang yang
mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu
jatuh (syafaa juruf) bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?
Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim".
QS. at-Taubah terletak pada ke 11 surah ke 9 ayat ke 109 dengan jumlah huruf 2001
Lebih jelasnya tentang persamaan pada 6 hal itu adalah sebagai berikut :
- Ayat ini membicarakan tentang bangunan/gedung = WTC merupakan bangunan/gedung kembar tertinggi di New York.
- Ada ayat yang lafazhnya dalam bahasa Al Qur'an yakni syafaa juruf yang artinya jatuh = WTC berlokasi di Syaf Jurf Street (Jl. Syarf Jurf) dan mengalami kejatuhan/kehancuran.
- Ayat ini pada Al-Qur'an terletak pada juz ke 11 = WTC mengalami keruntuhan pada tanggal 11.
- Ayat ini pada Al-Qur'an terletak pada surah ke 9 = WTC mengalami keruntuhan pada bulan ke 9 atau pada bulan September.
- Ayat ini pada surahnya terletak pada ayat ke 109 = WTC adalah gedung yang memiliki 109 buah lantai.
- Jumlah huruf pada surah ini adalah 2001 buah huruf = WTC mengalami keruntuhan pada tahun 2001.
Subscribe to:
Posts (Atom)


